Gingerious!

Ordinary people want to be extraordinary people.

Tampilkan postingan dengan label fanfic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fanfic. Tampilkan semua postingan

6 Jul 2012

(Drabble Songs) Dream boy


Dream Boy

Category      : Drabble 

Author          : Yoon Jieun

Cast              : -   A pink Jung Eunji
                        -   Lee Inhoon (OC)

#NP               : Dream Boy- CN BLUE

A/N            : Seperti biasa Author buat drabble judulnya ngambil dari lagu di playlist author, bikinnya juga Cuma bentar jadi begini deh-_-,  Padahal gak ada niatan sama sekali pas bikin ini. Waktu bikin aku lagi sedih. Tapi ceritanya ga ada sedih-sedihnya, happy   readinglah! Gamsa Yeorobun^^~


Hujan menetes dari tepi atap sebuah toko. Untuk membunuh kejenuhan tanganku menengadah menangkap salah satu butiran itu, ‘Seperti orang aneh saja aku ini’,pekikku.

Seorang anak laki-laki kecil berlari tergopoh-gopoh memeluk ber-rim koran. Tubuhnya sudah kuyup, hujan memandikan tubuh mungilnya pun tak ia peduliakan - terpenting koran yang ia rengkuh tak basah di guyur hujan.

Aku iba melihatnya. Kulangkahkan kaki kiri menginjak becekan, kemudian payung milikku ku renggangkan. Segara ku berlari menuju bocah kecil itu dan ku payungi tubuh kecilnya, ku eratkan tanganku pada pundaknya. Tubuh mungilnya merinding karena menggigil, “Eondiro adik kecil?”, dia tak menjawab – manik matanya yang bulat menatapku lekat, sangat polos.

Kemudian aku berlari bersamanya ke teras sebuah kedai. Tubuhku saja begitu dingin rasanya bagaimana dengan tubuh bocah sekecil ini?kemana orangtuanya, tega sekali mereka meninggalkan anak sekecil ini di tengah hujan yang dahsyat ini?rasanya jika bertemu, ingin kumarahi habis-habisan.  Ku keluarkan handuk kecil dari ranselku lalu ku usapkan pada rambutnya yang basah, Almater yang ku kenakan kubuka dan kukenakan kepadanya.”Ne, sekarang lebih hangatkan?”, ucapku.

“Ne, Noona Kamshamida!”

Aku berjongkok agar sejajar dengan tubuhnya, “Tadi kau belum menjawab pertanyaanku,hmm?”,”kau ingin kemana?”, tanyaku lagi.

“aku ingin mengantarkan semua koran ini!”, ungkapnya lalu menunjukan tumpukan koran yang sedari tadi ia peluk.

Aku hanya ber-oh ria.”kau tak sekolah, adik kecil?”, tanyaku lagi.

“aku sekolah!”

 “lalu kenapa kau tak berangkat sekolah pagi ini?”

“aku harus menjual semua ini dulu, baru aku berangkat sekolah”

Kasihan sekali dia harus bekerja dulu sebelum sekolah, aku jadi merasa bersalah selama ini karena dengan mudahnya membuang-buang uangku. Jadi aku ini bukan apa-apa di bandingkan anak kecil ini.
Kuulurkan tangan kananku kearahnya, “Siapa namamu? Aku Jung Eunji!”

“Inhoon, Lee Inhoon imnida!”

“hmm..nama yang bagus!”, ucapku sok tua.
Sejenak kami terdiam dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba mulutku menyenandungkan sebuah lagu dan memecahkan keheningan.

 Gomshemarig a hanji beiju
appa gom, omma gom..
baru aku mau menyanyikan lirik selanjutnya , Inhhon meneruskan liriknya.

 “Aegi gom !”

“Appa gomu tungtunghe” ,nyanyinya.

“Omma gomu seksihe”, nyanyiku tak mau kalah.

“Aegi gomu hoksi sirawa”, nanyinya lagi.

“Hiksuk, hiksuk charanda!!”, senandung kami bersamaan , Kamipun tertawa bersama dan bertepuk tangan bangga telah menyelesaikan lagu ini bersama .

Tak terasa hujan pun mereda. Saatnya aku harus berpisah dengan bocah kecil ini, sedih juga rasanya. Padahal kami baru bertemu lima menit yang lalu. Kebetulan bus menuju ke Sekolahku sudah tiba, lalu aku menengadah ke arahnya.

“kita harus berpisah!”, ucapku tak rela.

“ne, gomawo noona!”, ucapnya mengembalikan almaterku.

“Annyeong Gyeoseyo, Inhoon –ssi!”

“Annyeong noona!”, balasnya sambil melambaikan telapak tangannya.

Tiba-tiba dari kejauhan dia berteriak,”NOONA, KITA PASTI AKAN BERTEMU JIKA KITA KITA BERDUA SUDAH SUKSES NANTI!”

Aku hanya menganga bingung, kenapa anak itu bisa berbicara seperti itu. Sampai tiba di sekolah pun aku masih memikirkan kata-kata anak itu.’jangan-jangan anak itu bukan manusia!’. Celotehku  dalam hati. Bulu kudukku jadi merinding.

“AIGOO, NANEUN MICHIGYESO!”,teriak Eunji sendiri.

Anak-anak di kelasnya hanya bisa memandang Eunji bingung. ~FIN~ Nb: aneh yaa ceritanya, rada gaje gmn gitu mian readers, Author buatnya jam 2 malem *emg nanya?* niatnya aku pengen buat sequel tapi belom dapet titik terang -_- *author byk mau*

FIN~~
Gaje? aneh?  Mian juga kalo masih banyak typo, drabble ini hanya sekedar pengisi sunyi..
Gamsa yang udah mampir baca^^
Jjang~

19 Feb 2012

Lie (Fanfiction /Drabble)

Title: Lie
Author: Yoon Jieun
Cast: CN Blue,SNSD
Genre: romance
Rating: G
Song: Lie - CN Blue
A/N:  fanfic ini di buat secara spontanitas,pada saat bangun tidur di luar hujan turun dan lahirlah fanfic ini.Fanfic ini lebih ke arah drabble sih.. dan ini merupakan salah satu drabble song shuffle yang kubuat beberapa. Yang lain aku lupa buatnya dimana,suyukur-syukur gak ilang.Ohya drabble ini cast-nya couple loh,tapi ku rahasiain entar pada tau deh kalo udah baca.oke dari pada banyak babibu Happy readinglah~(^_^)/


“Ahjussi,aku ingin mawar yang itu!”,perintah seorang laki-laki pada penjual bunga yang sedang merapihkan beberapa bunga- bunga yang dijual di tokonya.

Penjual bunga itu menyerahkan beberapa ikat bunga mawar pada laki-laki yang menyuruhnya tadi kemudian laki-laki itu menyerahkan beberapa lembar uang pada si penjual bunga.kini laki-laki itu membungkuk sambil berterimakasih pada penjual bunga di hadapannya.

“Tuan,apa tak sebaiknya kau menunggu hujan reda?”,saran penjual bunga . 

“Anio,Ahjussi  yeojachinguku  sedang  menungguku  aku takut ia menungguku terlalu lama!”,jawab laki-laki itu sambil menorehkan senyumnya sebahagia mungkin.

 “Ahjussi, aku pergi dulu!”,pamit lelaki itu.

 “ya..ya! tunggu dulu!”,sergah penjual bunga itu.

 Penjual bunga itu mengambil payung transparan dan memberikan pada lelaki itu dengan reflek lelaki itu membungkuk dan berterimakasih.   Dengan tergesa-gesa ia membuka payung dan menerobos hujan yang kini amat deras,dipeluk buket bunga mawar untuk kekasihnya agar tak terkena hujan.

 “Seohyun-a sebentar lagi aku sampai!”,ucapnya sendiri sambil terus berlari cepat.

Sebuah taman terlihat terguyur hujan yang amat deras. Lelaki itu tersenyum, ia senang karena sudah sampai di tempat ia akan bertemu kekasihnya yang sangat ia cintai. Sekarang lelaki itu terus memutar kepalanya dan memasang mata baik-baik mencari keberadaan perempuan yang bernama Seohyun.
Ia sengaja tak mengeluarkan suara sedetikpun karena akan memberi kejutan pada Seohyun,ia membayangkan menutup mata Seohyun dari belakang dan setelah Seohyun berbalik badan Seohyun kagum melihat buket mawar yang lelaki itu bawa, membayangkan itu semua ia hanya bisa senyum-senyum sendiri.

Kakinya tak berhenti mencari keberadaan perempuan itu.Cipratan becekan hujan tak ia pedulikan terkena celananya karena tujuannya hanya perempuan itu, ia rindu melihat wajahnya,senyumnya,tawanya semua dari dirinya. Namun sebuah pemandangan menghentikan langkah kakinya, Seorang lelaki memeluk seorang perempuan, Pelukan lelaki itu sangat erat .Perempuan itu tak asing baginya.

“Srrak!”,buket mawar yang ia peluk seketika terjatuh terguyur hujan dan mendengar suara itu Seohyun baru sadar keberadaan kekasihnya.

 “Yonghwa oppa,akhirnya kau datang!”,panggil Seohyun bahagia sambil melepas lelaki yang ia peluk.

Tangan Yonghwa kini mengepal menahan amarahnya.

 “YA! Seohyun kau.. Napeunyeoja! ”, ucap Yonghwa murka dan ia pun berlari sambil melempar bebas payung yang ia pakai meninggalkan Seohyun dengan lelaki yang ia peluk tadi.

FIN~(^_^)/

10 Jun 2011

My Precious part. 1 (Twoshoot)



   
 Title        :My Precious part 1(twoshoot)
Author        : me  a.k.a  Yoon Ji Eun
 Cast             : Kwon Jiyong(Big Bang), Kwon Da Ji,Yang Yoseob(Beast)
Other cast : Lee Donghae(super junior),Choi Minho(Shinee),Yoon Dojoon(Beast)
Genre         : Horor
                                                     
Twinkle, twinkle, little star.
How I wonder what you are..
Up above the world so high..
Like a diamond in the sky..
Twinkle, twinkle little star..
How I wonder what you are..
Suara merdu itu terdengar lagi. Sederhana, lembut, dan tenang. Namun entah kenapa, terasa sedih dan menyentuh.
***
Aku duduk di tepi tempat tidurku. Rasanya lelah juga setelah menghabiskan waktu`seharian untuk kerja paruh waktu  ku lirik jam dinding bulat yang terpajang di dinding kamarku. Tepat pukul 12.00 pm.,tak disangka waktu cepat berlalu.
“kak, ayo tidur!” kudengar suara gadis kecil yang tak asing bagiku memanggilku.
Aku menoleR ke arah tempat tidur. Kutatap adikku dengan alis terangkat heran. “Kau belum tidur, Da Ji?”
“Belum,” jawabnya dengan nada agak serak lunglai, menandakan dia sudah sangat mengantuk.
Aku menatap wajah Da Ji. Air mukanya terlihat agak pucat, sepertinya dia terlalu lelah. Aku berbaring di sampingnya. Kuusap lembut puncak kepalanya. “kenapa? Kau belum tidur?”
Da Ji  menggeleng lemah. Aku tersenyum. Aku tak ingin menanyainya lebih jauh. Bocah kelas 1 SD sepertinya terlihat terlalu lelah menanggapi pertanyaan dariku.
Aku mencubit gemas pipinya. “ya sudah, ayo kita tidur!” ucapku pelan lalu mengecup keningnya.
“Baik Kak,”  Da Ji tersenyum lembut lalu menutup matanya.



***
When the blazing sun is gone..
When he nothing shines upon..
Then you show your little light..
Twinkle, twinkle all the night..
Twinkle, twinkle little star..
How I wonder what you are..
Samar-samar kudengar suara itu lagi. Samar dan begitu jauh. Semakin samar seiring aku merasakan ada yang aneh di sebelahku.
Aku terjaga saat kurasakan ada tetesan yang membasahi lengan kananku,apa rumahku bocor?entahlah. Dengan enggan aku membuka mataku. Aku melirik adikku. Mendadak rasa kantukku hilang. Bola mataku melebar ketika kulihat wajahnya tampak pucat. Ia menggigil, seluruh tubuhnya gemetaran. Tetes-tetes keringat mengalir dari pelipisnya. Aku mengernyitkan alisku. “Da Ji ada apa?” tanyaku khawatir.
Da Ji menatapku. Nafasnya tersengal-sengal. Matanya berkaca-kaca. Bibir mungilnya sedikit terbuka. Sepertinya ia ingin mengucapkan sesuatu, namun ada yang menahannya untuk mengatakannya padaku.
“Da Ji ada apa?” aku menatapnya semakin heran dan penasaran.
ia menggeleng. Air mata yang sedari tadi menggenang di matanya mulai luruh. Aku menatapnya lembut. “Kau mimpi buruk?” tanyaku.
Sekali lagi ia menggeleng.
Aku mengusap pipinya. “Kau takut?”
Ia mengangguk.
“Pada apa ayo katakan?” tanyaku penasaran.
Da Ji mengalihkan pandangannya. Ia menatap lurus ke depan, ke arah meja belajarku. Namun tak ada apapun di sana kecuali setumpuk buku pelajaran. Da Ji menunduk, “, Aku taka pa kak” jawabnya lirih.
Aku mengusap rambutnya. “Sudahlah, ayo kita tidur lagi. Jangan lupa berdoa, agar kau tak ketakutan lagi,” ucapku sembari mengusap kerigat yang masih mengalir di pelipisnya.
Tanpa berkata apapun  matanya mungilnya sudah terpejam.
***
Aku menutup buku pelajaranku. Akhirnya selesai juga tugas kelompok yang kukerjakan bersama Eunhyuk dan Minho. Aku melirik ke arah Minho yang sibuk merapikan buku pelajarannya. “hei..Minho, di mana Donghae?” tanyaku saat melihat tak ada tanda-tanda kehadiran Donghae di kelas.
“Oh, tadi dia keluar untuk membeli minum,” jawab Minho tanpa mengalihkan pandangannya dari komik yang ia baca.
“Oh,” gumamku sambil mengangguk. Kualihkan pandanganku saat mendengar suara pintu kelas terbuka. Kulihat Donghae berada di sana sambil menyeruput sekotak susu ultra. Tangannya menggandeng tangan seorang gadis kecil. Ya Ampun Da Ji? Batinku.
“Aku menemukannya sedang berdiri di depan pintu pagar sekolah kita. Kurasa dia menunggumu, Jiyoung,” kata Donghae sambil menatapku bingung.
Aku mendekati adikku yang masih berada dalam gandengan tangan Kibum. Kupegang kedua pundaknya. “Kenapa kau kemari? Bukankah kau sudah pulang sekolah lima jam yang lalu? Kau lupa membawa kunci rumah ya?”
Da Ji menggeleng.
“Barusan kau main ke rumah teman?” tanyaku sekali lagi begitu menggebu-gebu.
Ia tetap menggeleng. “Aku ingin pulang denganmu,kak,” jawabnya. Dia menggelayutkan tangannya manja pada tanganku. Bibirnya menyunggingkan senyum, namun entah kenapa aku merasa ada yang tengah disembunyikannya.
Aku tersenyum. “Ya sudah, ayo kita pulang. Ayo, Minho,Donghae, ”
“OKEEEE!!!” teriak Donghae dan Minho bersamaan lalu mengikutiku dan Da Ji.
***
Then the trav’ler in the dark..
Thanks you for your tiny spark..
How could he see where to go..
If you did not twinkle so?
Twinkle, twinkle, little star..
How I wonder what you are..
***
“Kyaaaaa!!”
Suara teriakan mengagetkan Jiyoung. Spontan ia terbangun untuk memastikan apa yang terjadi. Ia melirik adiknya. Kedua matanya terbelalak saat melihat kondisi adik perempuannya  itu. Da Ji menangis sesenggukan. Kedua tangannya terkepal di depan mulutnya. Seluruh badannya bergetar dan dipenuhi keringat.
Jiyoung mengusap kepala adiknya. “kenapa?ada apa, Da Ji? Kau Mimpi buruk lagi?” tanyanya khawatir.
“Ti.. tidaakk, ka.. kaakk. Hiks..” jawab adiknya terbata sambil menahan tangisnya.
Jiyoung mengusap keringat yang mengalir di pelipis Da Ji. Ya ampun, panas sekali badannya! Batin Jiyoung ketika meraba kening adiknya itu. “Da Ji kau sakit?” tanya Jiyoung semakin khawatir.
Da Ji tak menjawab. Ia masih terisak. Baru kali ini dia merasakan ketakutan yang begitu besar mencekam dirinya. Bocah berusia 6 tahun sepertinya seharusnya belum pantas tahu tentang hal seperti ini. Namun kenapa dia harus mengalaminya? Batinnya tak kuat lagi. Ini terlalu sulit. Dia selalu datang, hampir setiap saat, menangis, bernyanyi. Aku tak kuat lagi, Tuhan, batin Da Ji pasrah.
Jiyoung mendekap adiknya di dadanya. Ia masih bingung, apa yang sebenarnya terjadi pada adiknnya itu. Sejak kepindahan pertamanya kemari 2 minggu yang lalu, hampir setiap hari dia melihat adiknyanya itu ketakutan, berteriak, menangis, dan selalu histeris tiap tengah malam. Ada apa sebenarnya?
“Kak Jiyoung, aku mau pulang ke rumah ayah dan ibu,” rengek Da Ji sambil tetap terisak.
Jiyoung  melepaskan pelukannya. Ia menatap Da Ji. “Kita tak bisa kembali, Da Ji. ibu dan ayah sudah susah payah bekerja untuk menyekolahkan kita di Seoul,Korea. Apa kau ingin mengecewakan mereka?” tanya Jiyoung sehalus mungkin pada adiknya.
Da Ji menggeleng. “tapi,kak …”
Jiyoung mengusap kepala Da Ji. “Sudah, semua akan baik-baik saja. Kakak  ada di sini, kakak akan selalu menjagaku. Jadi, jangan khawatir. kakak akan selalu melindungimu,”
Da Ji mengangguk pelan. Meski agak ragu ketakutan dimatanya sedikit berkurang setelah mendengar penuturan Jiyoung.
“Tenanglah, Da Ji. sabar,” ucap Jonghyun sambil meraih kotak obat yang ada di sampingnya. “Ini, minumlah!” Jiyoung menyodorkan obat penurun panas pada Da Ji. “kakak ke dapur dulu mengambilkanmu air putih,” ucapnya kemudian.
“Tunggu!” Da Ji menarik tangan Jiyoung. “Aku ikut, kak,”
Jiyoung tersenyum. “Ya sudah, Ayo!”
***
Jiyoung sibuk mengerjakan PR sekolahnya. Ia mengerjakan PR-nya bersama Donghae di rumahnya. Merasa bosan melihat buku.Jiyoung melirik Donghae yang sedang berkutat dengan buku biologinya.
“hae, apa kau haus?” tanya Jiyoung.
Donghae tak menjawab.
“Hae?!” Jiyoung sedikit mengeraskan volume suaranya.
Donghae masih tak menjawab.
“Woyyy,Donghae!” Jiyoung sedikit berteriak.
Donghae tersentak. “hah ya? Kau bilang apa tadi? Maaf, tadi aku melamun,”
Jiyoung mendecakkan lidah. “Kau mau minum, tidak?”
“Ya, kau punya pocari sweet?” tanya Donghae sedikit tertarik dengan tawaran Jiyoung.
“Baik, aku ambilkan dulu,” ucap Jiyoung lalu beranjak pergi.
Donghae meneruskan aktivitasnya membaca buku, namun ia tertarik pada Da Ji yang sedang bermain di sofa di depannya. Gadis kecil itu terlihat sangat kurus. Wajahnya pucat pasi. Sekilas memang dia terlihat sedang bermain, namun yang dilakukannya hanya mencoret-coret sebuah kertas kosong yang ada di depannya. Merasa simpati dengannya Donghae menghampiri Da Ji.
“Da Ji kau sedang menggambar apa?” tanya Donghae sambil tersenyum manis.
Da ji menatap Donghae  polos. Ia memperlihatkan gambar sederhananya. “Ini, kak,”
Donghae mengernyitkan alisnya. Biarpun itu hanya gambar polos seorang bocah kelas 1 SD, namun gambar itu bisa dimengerti dengan jelas olehnya. “Ini temanmu,Da Ji?” Donghae ingin memastikannya.
Da Ji menggeleng keras. Matanya menyelidik mengelilingi seluruh ruangan.
Donghae menatap Da Ji bingung. “Lalu siapa?”
Da Ji tak menjawab, pandangannya terus menerawang kesetiap sudut ruangan. “ kak, takut!” tiba-tiba gadis kecil itu mencengkram lengan Dongahe.
“kenapa?”Donghae semakin bingung.
“I.. itu,” bisik Da ji.
Dongahe mengikuti gerak pandang  Da Ji. Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. Meja belajar Jiyoung. Di sanalah sumber ketakutan Da Ji berasal. Donghae menatap sosok yang ditangkapnya tengah duduk di atas kursi meja belajar Jiyoung.
Dongahe menatap Da Ji. Gadis kecil itu terisak pelan. “Aku takut, kak,” keluhnya.
“tenang-tenang, Da ji. Ada kakak di sini. Jangan takut, ya!” lirih Donghae sambil memeluk Da Ji menjauhkan pandangannya agar tak tertuju pada meja belajar Jiyoung.
“Dongahe, apa yang terjadi pada adikku?” tanya Jiyoung yang baru datang dari dapur sambil membawa pocari sweet.
“Nanti saja kujelaskan,” ucap Kibum sedikit tergagap. “Ehm, Jiyoung, bolehkah aku menginap di rumahmu malam ini saja?”
“tentu? Boleh, dengan senang hati aku dan Hyora menerimamu,” celetuk Jiyoung riang lalu menyerahkan sekotak pocari sweet pada Donghae dan Da Ji.
***
In the dark blue sky you keep..
And through my curtains often peep..
For you never shut your eyes..
Till the morning sun does rise..
Twinkle, twinkle, little star..
How I wonder what you are!
Da ji membuka matanya. Tepat seperti dugaannya, sosok itu datang lagi. Sosok yang tengah tertidur di atas meja belajar Jiyoung. Da Ji bangkit dan menyenderkan punggungnya di dinding. Ia mengatur nafasnya. Rasanya sudah cukup dia merasa ketakutan. Sudah cukup!
Sosok yang ada di hadapan Da Ji mengangkat tubuhnya. Da Ji mengepalkan tangannya. Ia mengumpulkan keberaniannya yang masih tersisa. Bibirnya yang dari tadi terkatup rapat kini sedikit terbuka. “Ka..Kaaamu,siapa kamu?” tanyanya berbisik, hingga ia sendiri tak mampu mendengar suaranya.
Sosok itu berbalik menatap Da Ji. Ia menyeringai seolah senang Da Ji bicara padanya. Perlahan ia bangkit sambil melambaikan tangannya pada Da ji.
Da ji  bergerak perlahan. Entah apa yang menguasai pikirannya sekarang, ia menuruti begitu saja sosok yang memanggilnya. Tak ada rasa takut yang menguasainya, bukan karena ia telah terbiasa, hanya saja otaknya seperti membeku hingga tak bisa merespon apa yang akan dilakukannya.
Da Ji bangkit dari tempat tidurnya meninggalkan Jiyoung dan Donghae yang masih terlelap di sisinya.
***
Jiyoung terbangun begitu menyadari sosok Da Ji tak ada di sampingnya.
“Donghae!” Jiyoung mengguncang badan Donghae yang tertidur di sebelahnya. “Di mana Da ji?!”
“Tenanglah, Jiyoung. Aku sudah bangun dari tadi,” ucap Donghae ironis.
Jiyoung mengernyitkan alisnya. “Tenang? Bagaimana aku bisa tenang? Kau tahu, Da Ji menghilang!” umpat Jiyoung semakin panik.kemanakah Da Ji sekarang?apakah ada hubungannya dengan kegelisahan gadis itu??

   TBC...

25 Apr 2011

rapunzel(Teaser)

terlelap terlelap dan akhirnya terbangun oleh sebuah gumpalan sinar yang begitu terang,kau terbangun dari ranjangmu lalu kau membuka tirai jendela kamarmu begitu menyilaukan sampai matamu tak sanggup melihat sinar itu lalu kau lanjutkan dengan membuka jendela udara begitu segar tampak seekor burung bernyanyi dengan riangnya sambil mengepakan sayapnya lalu ia terbang menjauhi sarangnya jauh jauh dan hilang tak terlihat lagi melihatnya kau begitu iri rasanya ingin sepertinya bebas lepas,sedangkan kau hanya terkurung di sebuah menara yang tinggi,kau tak tahu bagaimana keadaan di luar sana,sepertinya menyenangkan,''Rapunzeell ooh Rapunzzeelllll...!'',tiba-tiba seseorang membangunkan kau dari lamunan.ia ibumu,''Rapunzell ayo turunkanlah rambutmu!''lalu kau segera menurunkan rambut panjangmu itu,ibumu selalu melarangmu keluar menara tersebut ia selalu berkata''diluar sana sangat berbahaya,kau jangan langgar kata-kata ibumu ini nak,ibu tahu yang terbaik untukmu!''ibu selalu berkata itu dengan nada yang mengancam,tapi jika kau melongok keluar rasanya ingin sekali keluar dari menara ini,haruskah kau membantah ibumu?akankah ada seseorang yang bisa membawa mu keluar dari sini?hanya waktu yang bisa menjawab.

TO BE CONTINUE..